TERLALU “Cepat” atau “Lambat”

Bingung juga melukiskan standar Ujian Nasional yang terus distandarkan dan meningkat hingga 5,50. Dibilang terlalu cepat, bisa dikatakan lambat karena seharusnya dilakukan sejak dulu. Terlalu cepat, karena belum semuanya sempurna disiapkan.

Terlalu cepat. Mengapa tidak, masih banyak yang masih belum disiapkan. Gedung sekolah belum standar, begitupun pada fasilitas, guru-guru, buku, metode pengajaran di lapangan serta pengawasan terhadap hal tersebut.

Bagaimana bisa menyamakan sekolah dengan lantai tanah, dengan sekolah berfasilitas teknologi tinggi misalnya punya Over head projector (OHP) punya internet, punya komputer dan punya fasilitas lainnnya. Bagaimana bisa disamakan sekolah, dimana siswanya harus bekerja membantu orangtua, dengan siswa yang melulu hanya sekolah saja di rumahnya sudah ada laptop berjaringan internet, handphone, beli buku kapan saja bisa, jajanannya bergizi tinggi.

Mereka dipaksa untuk sama. Tentu saja yang mempunyai kesempatan minim, akan tetap berada di bawah. Apakah mereka mampu? sederahana saja jawabannya tentu saja itu sulit.

Terlalu Lambat. Bisa saja. seharusnya pemerintah dari dulu mengefektifkan buku online, termasuk dari segala sesuatunya. Tentu saja segala potensi harus terlibat, guru, wali murid, komite sekolah dan lainnya. Bagaimana bisa mereka mendapakan buku online di sekolahnya saja, komputer bisa dihitung dengan jari, bahkan ada yang tidak punya walaupun hanya sekedar mesin tik.

Jika semuanya sudah terpenuhi, murid-murid belajar dengan komputer sekolah. Buku, tugas, soal, dan jawabannya terkoneksi dengan online, buku tak perlu dibeli, gedung sekolah tak perlu menyumbang uang pembangunan, guru-guru tidak perlu jual buku atau jual baju.

Bukan tanpa usaha, semuanya telah menuju target tersebut. Dana pendidikan seperlima (20%) dari anggaran pembangunan. Namun tentu perlu evaluasi, kemana uang sebanyak itu. Untuk proyek pembangunan, proyek baju sekolah, dan berapa efektif sampai di siswa. Dana besar, butuh pengawasan besar, butuh ketegasan yang besar, butuh sanksi yang lebih besar.

Semoga pendidikan Indonesia semakin lebih baik.

Advertisements