Kami memberikan Arti Pada Ketakutan ini

Satu tahun telah berlalu. Sisa reruntuhan masih terlihat juga. Daerah ini masih terlihat gamang, begitupun perasaan yang tidak pernah tenang. Goncangan 30 September 2009 silam, masih terbayang. Waktu itu rasa takut begitu menyusut. Beban profesi mendokumentasikan setiap detik peristiwa penting dan jarang terjadi, terlalu melingkupi. “Jangan lupa ambil handycam,” sebut ku kepada seluruh reporter yang sedang berjibaku membuat laporan tugas satu hari. Goyangan gempa makin mengguncang. Mereka masih ada yang bingung, sebagian besar berusaha menjalankan tugas dari suara mencari kamera, senjata kerja, sebagian kecil masih terbingung-bingung. “Gampo…gampo Continue reading

Advertisements

Takut Itu Masih Ada.

Gedung Gamma hancur lebur Aku tidak tahu apa yang ingin kupikirkan melihat reruntuhan gempa yang berserakan di gedung bekas tempat Lembaga Pendidikan Gama. Debu masih saja berterbaran di sekitar daerah yang telah ditutupi seng tersebut.

Perasaan yang sama juga terjadi jika memperhatikan seluruh reruntuhan di Kota Padang ini. Kota tempat ku dilahirkan, dibesarkan dan tempat mencari makan tidak pernah bisa menutupi kelamnya Gempa akhir September lalu. Continue reading

Tak Mengemis Justru jadi Jutawan

Kisah Si Buta dan Ibu yang Lumpuh Masih ingat dengan perjalanan hidup Buyuang Feri (45) yang buta dan Nila (70), amai —sapaan akrab untuk ibunya— yang dimuat di Padang Ekspres, pertengahan April 2006? Ternyata, kehidupan yang dijalani dengan ikhlas, pantang menyerah dan (ini yang lebih penting dalam prinsipnya,—red) pantang untuk mengemis, justru menghadirkan ending bagaikan kisah sinetron. Keduanya, kini menjadi jutawan. Ini bukan kisah sinetron. Continue reading