Sejuta tanya Untuk Waktunya

Pernahkah dibayangkan, jika hidup setelah mati tidak ada. Jikapun ada,pastilah semua kenikmatan hidup di dunia pastilah telah berakhir. Semua yang kita miliki, akan menjadi milik orang lain. Hanya sebuah kenangan indah yang menimbulkan kesedihan bagi yang merasa memiliki.

Dengan cara apakah hidup kita dunia ini berakhir. Meninggal karena tua dan sakit?mati karena kecelakaan, tewas dibunuh? Munkin saja karena gempa.Bisa jadi. Bisakah kita tahu?atau bisakah kita memilih?. Itu masih menjadi rahasia dan terjawab ketika masa itu datang. Continue reading

Advertisements

Takut Itu Masih Ada.

Gedung Gamma hancur lebur Aku tidak tahu apa yang ingin kupikirkan melihat reruntuhan gempa yang berserakan di gedung bekas tempat Lembaga Pendidikan Gama. Debu masih saja berterbaran di sekitar daerah yang telah ditutupi seng tersebut.

Perasaan yang sama juga terjadi jika memperhatikan seluruh reruntuhan di Kota Padang ini. Kota tempat ku dilahirkan, dibesarkan dan tempat mencari makan tidak pernah bisa menutupi kelamnya Gempa akhir September lalu. Continue reading

Tak Mengemis Justru jadi Jutawan

Kisah Si Buta dan Ibu yang Lumpuh Masih ingat dengan perjalanan hidup Buyuang Feri (45) yang buta dan Nila (70), amai —sapaan akrab untuk ibunya— yang dimuat di Padang Ekspres, pertengahan April 2006? Ternyata, kehidupan yang dijalani dengan ikhlas, pantang menyerah dan (ini yang lebih penting dalam prinsipnya,—red) pantang untuk mengemis, justru menghadirkan ending bagaikan kisah sinetron. Keduanya, kini menjadi jutawan. Ini bukan kisah sinetron. Continue reading

Bunda, Dampingi Anakmu Di Masa Emas Mereka

oleh Siti Aisyah Nurmi

Para ahli psikologi anak bilang: lima tahun pertama adalah masa emas bagi seorang anak. Tahun-tahun emas. Ibuku selalu mengingatkan aku dulu ketika mereka (putra-putriku) masih kecil: Masa kecil mereka tak terulang dua kali. Benar sekali. Waktu yang pergi tak akan kembali, masa kecil yang berlalu tak mungkin diulang. Seberapa pentingnya-kah masa emas ini? Sesudah si kecil menghirup udara kotor dunia pada detik-detik pertama hidupnya, sejak saat itulah ia mulai belajar dari pahit getirnya dunia. Tarikan nafas pertama memperkenalkannya dengan kebutuhan dasar. Bernafas.Para pakar menganjurkan pada detik-detik pertama tersebut si kecil segera diperkenalkan pada bundanya. Maka bayi merah yang bahkan masih licin tersebutpun diletakkan di atas dada bunda yang sedang sumringah bahagia. Tatapan pertama antara keduanya. Apa yang kau lihat pada dirinya wahai bunda? Banggakah dikau? Kecewakah? Kebencian kah? Continue reading