Anggota DPRD Kota Padang 2009-2014

Komisi Pemilihan Umum Kota Padang tetapkan anggota DPRD Padang periode 2009-201. Sepuluh nama, termasuk pimpinan DPRD Padang periode sebelumnya kembali terpilih sebagai anggota DPRD Padang berikutnya.

ANGGOTA DPRD KOTA PADANG (PADANG 1) Continue reading

Advertisements

Kenangan Yang Tertunda

Kami bukanlah sahabat yang baik. Saling ejek dan merendahkan satu sama lain bila bertemu merupakan makanan harian. Namun tak ada luka diantara ikatan tanpa perjanjian itu.

Ia bukanlah orang baik, bagaikan malaikat. Aku paham. Berbagai obat-obatan terlarang dan narkoba selalu mengelilinginya. Aku tidak pernah tahu apakah ia terlibat atau tidak. Tapi jelas belum pernah melihatnya memakai satupun barang haram tersebut, walau hanya segelas bir dingin.

Aku harus mencari kader di kampus yang akanditinggalkan. Cita-cita menjadikan warga kampus ini berarti membuatku harus mencarikan pengganti yang gila alamamater juga. Ia merupakan salah satunya.

“Awak tidak bisa mengajak kawan da,” ucapnya ketika beberapa kali mengikuti ospek. Anak ini kupikir menarik. Selalu hadir walaupun kawan-kawannya sedikit datang. Setia kawannya juga tinggi,kupikir.

Cita-cita selalu kugambarkan dalam perbincangan dengan Rajied. Ia paham!. “Harus seperti itu da,” katanya tegas ketika menerima ideku.

Hari berganti tahun telah berubah. Ternyata umurnya tidak jauh berbeda. Kami akhirnya sekedar memanggil nama atau saling memanggil uda.

“Aden panik kini da benk. Adiak-adiak indak namuah diasuah,” terangnya menyebutkan kondisi kampus terbaru ketika ku pulang penelitian dari Pasaman.

Aku harus turun langsung. Walaupun keterbatasan waktu memaksa ku menghindar dari kesibukan kampus. “Pandai-pandai jo adiak-adiak Jied.

Kalau ang anggap lawan jadilah inyo lawan. Kalau dianggap orang bisa diasuah. Mereka pasti bisa diasuah. Tentu indak saratus persen seperti yang diharapkan, tapi nanti pasti labiah,’ terangku waktu itu menyemangatinya.

Ia semakin tenggelam dengan kesibukan kegiatan mahasiswa di kampus. Tidak kentara memang, tapi yang jelas Rajied ingin melebihi pamor ku di kampus.

Semua kegiatan diikutinya. Naik gunung, main musik, ngumpul tiap malam dilaboratorium, hingga mengerakan massa. Termasuk menjadi pemusik, di festival musik rock kebanggaan kami, Jamsika. Hanya satu ia lupa, statusnya masih mahasiswa, sama seperti kami dulu.

“Aden lah tamat tapi 6 tahun, kalau hebat ang bisa samo se jadinyo dipanggia uda. Kalau lebih dari 6 tahun den cimeehan taruih. Waang lai di kampus, nanti kalau sempat den caliak taruih,” pesan ku ketika wisuda.

Namun apa kenyataan yang kutemui.Rajied semakin mengghilang. Hampir satu tahun ku ingin bertemu.Rici, teman dekatnya juga resah. “Ndak namuah di kecekannyo da. Awak lah bantu bahan-bahan kuliah tapinyo maleh. Antah apo penyebanyo,” sebut Rici ketika bertemu di luar kampus.

Beberapa kali, melalui kawan, sms, telfon bahkan mengunjungi Rajied ke kantor tempat bekerja mengundang datang ke tempat kami beraktivitas dulu. Kampus tercinta. Semuanya ditolak. “Aden datang bilo waang wisuda sajo lah,”.

“Benk Rajied maningga,” tertulis di pesan singkat di handphone. Nomor hp nya tidak kukenali.

Aku linglung. Kopi pagi kuhirup tenang. Aku butuh waktu untuk memastikannya. “Sia ko. Maningga dek a?. Jan bagarah ang sia ko,” nomor yang masuk ku telphon .

“Aden kawan ang. Namo den Em, ndak ang simpan nomor den,’ tuturnya. Jelas itu M Najri Janra. Kawan satu lettingg telah menjadi dosen satu tahun lalu.

Berusaha tetap santai, aku minum kopi lagi. Tapi rasanya pahit. Terbayang itu hanya canda lama Rajied untuk membuatku datang ke kampus lagi. Kami telah hampir satu tahun tidak lagi saling memberi informasi.

Sosok mayat. Luka menganga di kepala. Membuatku terpana. Benar! Rajied tewas di lantai tanah. Bekas jahitan di tanganya masih terlihat jelas.

Beberapa teman sepermainnya menangis terisak-isak, ketika ku datang melihat kejadian sebenarnya. Rici tertunduk lesu, menatapku kosong seraya ingin mengatakan sesuatu tapi entah apa.

Terbayang. Ketika Rajied patah tulang tangan, beberapa tahun sebelum Tuhan mengakhiri takdirnya. Aku lihat dia selalu nyengir kesakitan di Rumah Sakit. Kadang nekat, ia keluar bila diajak merokok, senyumnya kembali melebar.

“Rokok urang gaek tu ang agiahan ka aden. Balian den sampoerna pitih habis ko ha,” jawabnya bercanda ketika diberikan rokok GP. Itu bukan hanya satu kali, beberapa kali ia kecelakaan dan patah-patah.

Tapi sekarang, dia tidak sedang bercanda.Tidak kesakitan. Hanya diam. Bajunya planel biru, baju kesukaan kami, handphonenya sony ericson milikku yang dibelinya, sepatu dan celananya sangat ku kenal.

Hanya satu rajied menyimpan cincin dan flasdisk. Mungkin ia telah berubah. Rajied dulu memang tidak begitu mudah jatuh cinta pada wanita, atau setidaknya belum terlalu mencintai wanita ku ingat. Kecuali ia sangat cinta kampus dan almamaternya.

Rajied dibawa ke kamar mayat. Tubuhnya sangatlah dingin. Polisi seakan tidak memperdulikan tubuhnya. Mendorong Masuk ke dalam bunker. Selamat jalan kawan. Mungkin hidup ini terus berlanjut, tanpa kawan!!!!.

(Mengenang Rajied-September2006)

Tidak Terperhatikan

Pengakuan Tetangga Tersangka

DEWI

Beberapa orang bisu, tersebut memang sering berkumpul di tempat kos di daerah Piliang, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh. Lena dan Alfi diduga tetangganya merupakan suami istri. Tetangga tidak begitu peduli, karena sulitnya berkomunikasi dengan tersangka.”Mereka memang sering berkumpul. Apalagi kalau malam minggu dan tahun baru mereka banyak. Kalau berbicara tidak jelas, dan memakai bahasa isyarat,” jelas Dewi salah satu tetangga tersangka. Menurut Dewi kumpulan orang bisu itu, telah cukup lama tinggal didaerah sana. Dirinya dan tetangga lain tidak menyangka orang-orang tersebut mau membunuh orang lain. “Kalau berkumpul mereka, sering pakai handphone. Hanya untuk short Massage Service (SMS) saja mungkin,” imbuh tetangga lain senyum. Ketika ditanyakan mengenai pekerjaannya, tetangga itu hanya mengetahui mereka punya pekerjaan macam-macam. “Ada yang ngaku tukang perabot, jualan dipasar, kerja sama orang, dan lain-lain,” ujar Dewi. Dalam keseharian bertetangga, kumpulan orang bisu itu dikenal cukup baik.Anak-anak muda itu, lebih akrab sesama bisu dibandingkan dengan tetangganya yang lain. (abk)

Yon

Menurut Yon, salah satu dari tersangka sangat pandai bermain kartu koa. Permainan berupa kartu bergambar itu sering dimainkannya bersama masyarakat sekitar kampung mereka di Batang Tabik. “Kalau mau main pakai, kode-kodean. Bicaranya sering pakai isyarat, karena tidak begitu jelas,” tutur pria yang juga wartawan media mingguan itu. Selama kenal Yon, menyebutkannya mudah tersinggung. “Kalau dia dibawah tangan (gilaran kedua-red), kartunya mati maka dia akan marah. Maunya dia diatas tangan orang yang mengalahkannya itu,” ungkap Yon. Kejadian yang paling dikenal Yon ketika Muslifa yang bekerja di toko pembuatan alat perabot itu, tangganya luka terkena kampak. “Tangannya yang hampir putus itu, dijahit sendiri pakai benang nilon. Untuk menahan sakit dia gigit handuk kuat-kuat,” tutur Yon bergidik. Tetapi keluarga Muslifa akhirnya membawanya kerumah sakit, untuk mencegah infeksi. (abk)

– Membunuh Dalam Diam
– God Father Tuna Rungu
– Kejadian Unik Perdana

Tak Ingin Direndahkan, Walau Kekurangan

Dibalik Pengakuan Tersangka Pembantaian si Bisu

Keponakan Korban (Tersangka) Di Balik Tahanan

Keponakan Korban (Tersangka) Di Balik Tahanan

Dibalik kekurangan mereka dari orang normal, karena tidak bisa berbicara dengan benar. Ada kekompakan terpatri dihati mereka. Rasa sakit yang dirasakan satu orang, dirasakan orang lain. Rasa sakit Lena sering dianiaya, dan diperkosa, serta dilarang pacaran, membuat mereka sepakat untuk membunuh paman Lena tersebut.

“Orang-orang bisu itu merasakan mereka senasib sepenanggungan,”tutur Kapolsekta Harau, AKP Pariadi didampingi Kanit Reskrimnya, Aiptu Hendrias. Beberapa guru SLB juga mengungkapkan mantan anak muridnya itu tidak mau melarikan diri sendiri-sendiri. Bagi mereka berkumpul dalam penjara lebih baik. Terlihat tawa dan canda mereka, menghibur Lena yang tampak kurang enak badan disel sebelah mereka.

Kehadiran keluarga mereka yang kebanyakan juga bisu, menambah semangat mereka untuk terus kompak menjalani hukuman. Ditambah kehadiran mantan guru SLB di Polsekta Harau untuk menjelaskan arti isyarat yang mereka berikan.

Wajahnya Lugu

Wajah Marlena (21) masih pucat. Tampaknya wanita muda berparas cantik itu pucat ketika berada dalam tahanan Mapolsekta Harau. Petugas memenuhi permintaan korban, yang sering meminta minum kepada petugas. Petugas juga membelikan obat demam permintaannya.
“Om telah tiga kali memperkosa. Sering menampar dan menampar ibu,” tuturnya dengan bahasa isyarat dan menuliskan hal itu. Terkesan padanya, ada kepuasan tersendiri, berhasil membalaskan dendam walaupun harus tertangkap ditangan petugas Polres Limapuluh Kota.

“Kalau tidak membunuh pamannya, pacarnya akan dibunuh oleh korban,” ungkap Petugas yang menginterograsi Lena.

Sepintas lalu, tidak terlihat Lena mempunya cacat tidak bisa bicara. Wajahnya tergolong manis, dengan beberapa luka di mukannya bekas terjatuh dari motor. “J…a….tuh,” ucapnya walau sulit, sambil tangannya seperti mengendarai motor.
Ketika ditanyakan alasan membunuh pamannya, dengan emosional Lena mempertunjukan bagaimana pamannya itu menampar dan memperkosanya. “Aaaaa….A……Aaaa….Ugh……,” suara itu keluar dari mulutnya, tanggannya memegang pipi, dada dan menunjuk ke pangkal pahanya.
Tampaknya Lena sangat membenci korban yang tak lain pamannya. Ketika petugas memperlihatkan wajah korban, Lena langsung menutup muka. Wajahnya mengkerut, disela-sela baju yang ditutupinya ke wajah lugu gadis remaja itu.

Tak Banyak Bicara

Walaupun mengetahui Lena, merencanakan pembunuhan itu, Alfi-pacar Lena-mengaku tidak bisa melarang rencana itu. Dirinya mengaku tidak ikut ketika pergi ke lokasi pembunuhan itu. “Saya tidak bisa melarangnya,” tutur juru bahasa menjelaskan bahasa isyarat Alfi.
Ketika disuruh foto bersama, Alfi dan Lena tidak mau. “Malu….Ma…..lu………,” katanya Lena berulang-ulang tidak mau. Alfi tampak tenang. Pria berwajah lumayan itu, tidak mau melihat kesana kemari ketika ditanya petugas, berbeda dengan tersangka lainnya. Alfi berdasarkan keterangan yang didapat petugas, mengetahui dan membantu pembunuhan dengan menjual HP Lena. “Dia tidak ingat,” kata juru Bahasa mengartikan gerak tangannya, ketika ditanyakan kepada siapa menjual HP Lena. Uang penjualan HP Rp 500 ribu itulah dibagikan kepada eksekutor. Alfi merupakan target utama dari Basrizal, sebelumnya untuk dibunuh. Korban yang sehari-hari penjual pisau keliling itu telah menyiapkan tiga pisau untuk memburu Alfi. Dalam pencarian Alfi itulah korban bertengkar dengan eksekutor, hingga akhirnya terbunuh di kelok sembilan.

Ketua Puluhan Orang Bisu Pekanbaru

Ketika hendak ditangkap di Pekanbaru petugas, menemukan kembali keunikan untuk dua orang bisu tersebut. Doni dan Fauzi ternyata orang yang cukup disegani bagi kelompok orang bisu di kota Pekanbaru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Limapuluh Kota itu.
“Kalau ada orang bisu yang merasa dianiya orang lain, maka Fauzi dan Doni merupakan tempat mengadu mereka,” tutur Kanit Reskrim, Aiptu Hendrias yang menjemput mereka ke sana. Tiga puluh orang bisu, melepas kepergian mereka untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. “Saya tebas lehernya satu kali,” ucap Fauzi tidak begitu jelas.
Doni eksekutor dua, gentleman mengaku kepada petugas bacok kepala korban satu kali dan selanjutnya melakukan beberapa tusukan sehingga korban tewas. “Om mati, Tuti tendang dan saya buang ke sungai,” ungkap Fauzi sambil memperagakan cara membuang mayat Basrizal.
Tidak ada tampang menyesal dari wajah mereka. Dengan cengengesan mereka kembali mengulang cara membunuh korban ketika diminta oleh petugas. “Awalnya pura-pura pipis,” jujur Fauzi bertutur. Tangannya memegang celananya sambil senyum.
Usai memperagakan cara membunuh, Fauzi dan Doni dibawa ke kamarnya yang baru. Dalam sel Polsekta Harau. Sambil lewat sel teman-teman wanitanya Fauzi berjalan seperti orang utan. Tanggannya diletakkan dipinggang, mulutnya berbunyi seperti bunyi orang utan berusaha, membuat teman-temannya tertawa.
Bagi Fauzi berkumpul dengan teman-temannya lebih penting, daripada melarikan diri dari tanggung jawab tersebut. “Kata gurunya dia tidak mau melarikan diri berdua saja. kalau semua temannya ikut dia mau saja pergi kemana saja,” tutur salah seorang petugas. (abk)

– Kejadian Unik Perdana
– Membunuh Dalam Diam
– God Father Tuna Rungu

Kejadian Unik Perdana

Kapolresta Limapuluh Kota

Kapolres Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widyanto

Kapolres Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widyanto

Kejadian cukup unik terjadi di wilayah hukum, Kabupaten Limapuluh Kota. Kapolresta Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widyanto pun mengakuinya. Baginya kasus ini berbeda dengan kasus-kasus lain yang pernah ditangani jajarannya. “Memang cukup unik, karena korban dan pelaku semuanya bisu,” tutur Kapolresta Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widiyanto di ruang kerjanya.
Terungkap kasus ini, berdasarkan informasi dari pihak keluarga korban yang melihat korban bersama teman-temannya yang tuna rungu. Berdasarkan hal itu, Kapolres langsung memerintahkan jajarannya untuk memburu pelaku. Pelaku berhasil diciduk tiga orang ditempat kos Lena. Kasus tersebut akhirnya dikembangkan hingga tersangka menjadi delapan orang. Tersangka terakhir yang diakui teman-temannya sebagai eksekutor bayaran dari Pekanbaru berhasil ditangkap keesokan harinya di Pekanbaru.
“Penyelidikan dibantu, guru SLB. Kami agak kesulitan untuk mendapatkan keterangan dari tersangka. Tetapi mereka umumnya mereka secara gentlement mengakui perbuatannya,” tutur Kapolresta yang baru menempati kantornya dalam satu bulan terakhir itu. (abk)

Berita Terkait ;
– God Father Tuna Rungu
– Membunuh Dalam Diam

God Father Tuna Rungu

Pengakuan Algojo Tuna Rungu

Mayat Basrizal Ketika Ditemukan Penduduk

Mayat Basrizal Ketika Ditemukan Penduduk

Ketika hendak ditangkap di Pekanbaru petugas, menemukan kembali keunikan untuk dua orang bisu tersebut. Doni dan Fauzi ternyata orang yang cukup disegani bagi kelompok orang bisu di kota Pekanbaru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Limapuluh Kota itu.

“Kalau ada orang bisu yang merasa dianiya orang lain, maka Fauzi dan Doni merupakan tempat mengadu mereka,” tutur Kanit Reskrim, Aiptu Hendrias yang menjemput mereka ke sana.

Tiga puluh orang bisu, melepas kepergian mereka untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. “Saya tebas lehernya satu kali,” ucap Fauzi tidak begitu jelas.

Doni eksekutor dua, gentleman mengaku kepada petugas bacok kepala korban satu kali dan selanjutnya melakukan beberapa tusukan sehingga korban tewas.
“Om mati, Tuti tendang dan saya buang ke sungai,” ungkap Fauzi sambil memperagakan cara membuang mayat Basrizal.

Tidak ada tampang menyesal dari wajah mereka. Dengan cengengesan mereka kembali mengulang cara membunuh korban ketika diminta oleh petugas. “Awalnya pura-pura pipis,” jujur Fauzi bertutur. Tangannya memegang celananya sambil senyum.

Usai memperagakan cara membunuh, Fauzi dan Doni dibawa ke kamarnya yang baru. Dalam sel Polsekta Harau. Sambil lewat sel teman-teman wanitanya Fauzi berjalan seperti orang utan. Tanggannya diletakkan dipinggang, mulutnya berbunyi seperti bunyi orang utan berusaha, membuat teman-temannya tertawa.

Bagi Fauzi berkumpul dengan teman-temannya lebih penting, daripada melarikan diri dari tanggung jawab tersebut. “Kata gurunya dia tidak mau melarikan diri berdua saja. kalau semua temannya ikut dia mau saja pergi kemana saja,” tutur salah seorang petugas. (tandri eka putra)

Berita Terkait ;
– Membunuh Dalam Diam

Auman Cekam Kapur IX

Seekor Harimau Kapur IX Diangkat

Seekor Harimau Kapur IX Diangkat

Tak hanya auman, juga mengerayangi nyawa penduduk. Tercatat….. korban dan kerugian…………?

Laporan : Tandri Eka Putra—Limapuluh Kota

Tak urung, peristiwa ini mengemparkan warga. Warga resah dan takut ke luar rumah. Harimau Sumatera mendatangi perkampungan itu. Sekitar tiga bulan daerah Kapur IX dan Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota akhirnya mencekam. Binatang buas, harimau Sumatera menghantui rasa nyaman penduduk.

Walaupun tidak semua daerah yang didatangi binatang buas sekaligus langka, tapi tingkat kecemasan meningkat daerah paling ujung di Kabupaten yang berbtasan langsung dengan Provinsi Riau tersebut mencekam.

Daerah yang terkenal dengan gambir itu, sejak bulan 20 November 2005 hingga Januari 2006 di datangi Inyiak Balang (panggilan Harimau bahasa Minangkabau-red). Akibat kunjungan yang tak diharapkan itu, beberapa orang terluka dan tiga diantaranya meninggal dunia dengan bagian tubuh tidak utuh lagi. Tidak hanya itu penduduk juga kehilangan binatang ternak lainnya berupa sapi dan kambing.

Suasana mencekam, dihantui bertemunya binatang yang buas itu membuat masyarakat enggan pergi ke ladang. Padahal ladang yang terletak di tengah hutan merupakan sumber penghasilan utama penduduk Kapur IX dan Pangkalan.

Tanggal 20 November 2005. beberapa penduduk jorong Kapuang Ratan Nagari Sialang kecamatan Kapur IX berpapasan dengan binatang buas tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam pertemuan itu, tiga orang penduduk luka-luka, satu ekor sapi dan tiga ekor kambing diterkam sehingga tubuhnya compang-camping dicabik-cabik taring dan cakar binatang liar itu.

Esok harinya tanggal 21 November 2005, tiga ekor kambing penduduk Muaro Peti juga hilang dan ditemukan sudah tidak utuh lagi. Tim dari pemerintahan kecamatan Kapur IX dan Anggota Polres Kabupaten Limapuluh Kota, melalui Polsekta Kapur IX segera mengamankan daerah itu. Masyarakat pun diingatkan untuk tidak pergi sendiri-sendiri ke ladang mereka.

Hari-hari berikutnya, masyarakat semakin sering menemukan jejak hewan tersebut diladangnya. Tidak hanya sekedar jejak, bayangan tubuh berkulit belang menandakan hewan tiu ada semakin nyata dimata penduduk.

Akhir bulan November tersebut seorang penduduk di kecamatan sama berkelahi dengan harimau di ladangnya. Korban selama beberapa bagian tubuhnya terkena cakaran dari binatang yang gesit itu. Penduduk itu bernasib baik, sehingga berhasil melarikan diri. Usai dirawat di puskesmas korban diperbolehkan pulang dengan menyisakan ketakutan yang sama.

Kamis, beberapa orang penduduk di Tanjung Jajaran nagari Galugur menemukan binatang itu. Seorang penduduk malamnya terpaksa harus berkelahi mempertahankan hidupnya. Saat itu korban yang sedang mencangkul diladangnya berhasil membuat hewan buas tersebut cedera pada matanya, dengan pukulan cangkulnya.

Harimau itu melarikan diri, meninggalkan tubuh korban yang sudah luka-luka. Esok harinya penduduk daerah Kapur IX merasa harimau tersebut tidak akan kembali lagi ke kampung mereka. Masyarakat petani gambir kembali beraktifitas seperti biasa. Mereka merasa harimau sudah pergi, karena mendengar binatang buas tersebut menerkam masyarakat Provinsi Riau, Rokan Hulu hingga luka-luka.

Di Provinsi tersebut harimau semakin mengganas dan menewaskan dua orang warga Rao. Dugaan masayrakat Kapur IX akhirnya salah. Hampir satu bulan tidak didatangi harimau, Kamis 19 januari 2006 kembali harimau mengunjungi negeri ini. SAtu orang penduduk luka-luka dan beberapa hewan ternak tewas diterkamnya. Korban diketahui bernama Iswanto (16).

kedatangannya Inyiak balang membuat jajaran Polres Limapuluh Kota kembali waspada, melalui petugas Polsek Pangkalan patroli dan jaga malam ditingkatkan. Selang dua hari, Sabtu 21 Januari 2006 Inyiak balang yang dipercaya jarang turun ke kampung itu berhasil membunuh seorang penduduk. Korban bernama Si Ii ditemukan penduduk pagi harinya dengan tangannya sebelah kiri hilang dan tangan sebelah kanan rusak.

Hari-hari dilalui penduduk dengan kecemasan. Penduduk berani keluar jika berombongan. Senin 23 Januari 2006 rombongan dari Muspika plus Limapuluh Kota, Polres Limapuluh Kota, Kesbanglinmas, dan Sekda, Bactar Kahar mengunjungi lokasi untuk melihat kondisi masyarakat di daerah Luhak nan bungsu itu.

Hari itu juga, rombongan dikejutkan dengan bertemunya rombongan yang mengusung seorang pendduuk di tengah perjalanan. Daerah penemuan tubuh itu di sungai Ringgo Joron Mongan Nagari GAlugur kecamatan Kapur IX.

25 Januari 2006, Pemkab Limapuluh Kota bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar dan Taman SAfari segera membuat antisipasi dengan pemasangan perangkap. Rombongan memasang dua perangkap dari kayu dengan umpang kambing dan anjing. Lokasi pemasangan perangkap ada di dua titik di sekitar daerah Santuang jorong Mongan kecamatan Galugur di daerah perbukitan tempat biasa hewan itu muncul.

Jumat, 27 Januari setelah dua hari pemasangan perangkap akhirnya harimau yang diduga telah meresahkan masyarakat itu ditembak mati petugas. Petualangan harimau itu berakhir, dengan dua tembakan di dada dan kakinya. Petugas terpaksa menembak di tempat karena binantang tersebut berusaha menerkam petugas yang berpatroli di daerah perbukitan. Tepatnya sekitar 200m dari perkampungan penduduk atau jembatan Mongan.

“Ketika itu kami rombongan patroli dan kebetulan kepergok dengan harimau. karena harimau itu berusaha menerkam romongan maka dilakukan penembakan. Tembakan dengan senjata laras panjang mengenai kaki. Tembakan itu tidak melumpuhkannya malah semakin membuatnya marah dan akhirnya dua tembakan di dadanya membuat binatang itu tak berkutik lagi,”ungkap Kapolresta Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widiyanto menceritakan kronologis keberhasilan jajarannya mengamankan warga.

Hal itu juga dibenarkan oleh anggota kepolisian, Aiptu Iswandi yang disebut-sebut penduduk sebagai salah satu dari rombongan yang berhasil menumbangkan bintang yang telah membunuh warga itu. “Kita tetap standby menjaga keamanan,” tuturnya Ka SPK shift C Polresta Limapuluh Kota itu. (abk)