Ceritakan Tentang Indonesia dalam Indosiana.com

Eksis sebagai diri sendiri dan bangga sebagai bangsa Indonesia menjadi penting. Kadang kebanggaan dan rasa kebangsaan kita meningkat ketika klub sepakbola kita memasuki laga final dalam piala Asia. Kadang kita bersatu dalam rasa kebangsaan kita negara kita diganggu oleh negara tetangga. Ketika negara lain, protes hukuman mati yang negara kita buat, atau negara tetangga hukum mati warga kita. Kita tidak suka, kita marah, kita merasa bersama. Continue reading

Advertisements

Masa Depan Media Online Sekarang

New media itu media online, internet itu media masa depan. Kadang ada latah, niru ungkapan saja. Sederhana berfikir, mungkin rumit juga. Coba pahami kalimat ini, media online itu di internet, internet itu masa depan. Di masa depan semua orang pakai internet, sehingga memerlukan media online maka disebut juga media masa depan. Kalimat ini bisa juga diaduk lagi. Orang bermasa depanlah yang memakai internet dan membaca media online, karena itu gaya masa depan. Tentukan sendiri mana yang benar, kalimatnya. Continue reading

Bunda, Dampingi Anakmu Di Masa Emas Mereka

oleh Siti Aisyah Nurmi

Para ahli psikologi anak bilang: lima tahun pertama adalah masa emas bagi seorang anak. Tahun-tahun emas. Ibuku selalu mengingatkan aku dulu ketika mereka (putra-putriku) masih kecil: Masa kecil mereka tak terulang dua kali. Benar sekali. Waktu yang pergi tak akan kembali, masa kecil yang berlalu tak mungkin diulang. Seberapa pentingnya-kah masa emas ini? Sesudah si kecil menghirup udara kotor dunia pada detik-detik pertama hidupnya, sejak saat itulah ia mulai belajar dari pahit getirnya dunia. Tarikan nafas pertama memperkenalkannya dengan kebutuhan dasar. Bernafas.Para pakar menganjurkan pada detik-detik pertama tersebut si kecil segera diperkenalkan pada bundanya. Maka bayi merah yang bahkan masih licin tersebutpun diletakkan di atas dada bunda yang sedang sumringah bahagia. Tatapan pertama antara keduanya. Apa yang kau lihat pada dirinya wahai bunda? Banggakah dikau? Kecewakah? Kebencian kah? Continue reading

TERLALU “Cepat” atau “Lambat”

Bingung juga melukiskan standar Ujian Nasional yang terus distandarkan dan meningkat hingga 5,50. Dibilang terlalu cepat, bisa dikatakan lambat karena seharusnya dilakukan sejak dulu. Terlalu cepat, karena belum semuanya sempurna disiapkan.

Terlalu cepat. Mengapa tidak, masih banyak yang masih belum disiapkan. Gedung sekolah belum standar, begitupun pada fasilitas, guru-guru, buku, metode pengajaran di lapangan serta pengawasan terhadap hal tersebut.

Bagaimana bisa menyamakan sekolah dengan lantai tanah, dengan sekolah berfasilitas teknologi tinggi misalnya punya Over head projector (OHP) punya internet, punya komputer dan punya fasilitas lainnnya. Bagaimana bisa disamakan sekolah, dimana siswanya harus bekerja membantu orangtua, dengan siswa yang melulu hanya sekolah saja di rumahnya sudah ada laptop berjaringan internet, handphone, beli buku kapan saja bisa, jajanannya bergizi tinggi.

Mereka dipaksa untuk sama. Tentu saja yang mempunyai kesempatan minim, akan tetap berada di bawah. Apakah mereka mampu? sederahana saja jawabannya tentu saja itu sulit.

Terlalu Lambat. Bisa saja. seharusnya pemerintah dari dulu mengefektifkan buku online, termasuk dari segala sesuatunya. Tentu saja segala potensi harus terlibat, guru, wali murid, komite sekolah dan lainnya. Bagaimana bisa mereka mendapakan buku online di sekolahnya saja, komputer bisa dihitung dengan jari, bahkan ada yang tidak punya walaupun hanya sekedar mesin tik.

Jika semuanya sudah terpenuhi, murid-murid belajar dengan komputer sekolah. Buku, tugas, soal, dan jawabannya terkoneksi dengan online, buku tak perlu dibeli, gedung sekolah tak perlu menyumbang uang pembangunan, guru-guru tidak perlu jual buku atau jual baju.

Bukan tanpa usaha, semuanya telah menuju target tersebut. Dana pendidikan seperlima (20%) dari anggaran pembangunan. Namun tentu perlu evaluasi, kemana uang sebanyak itu. Untuk proyek pembangunan, proyek baju sekolah, dan berapa efektif sampai di siswa. Dana besar, butuh pengawasan besar, butuh ketegasan yang besar, butuh sanksi yang lebih besar.

Semoga pendidikan Indonesia semakin lebih baik.

Caleg Juga Pejuang?

Terlepas dari apa yang terniatkan. Namun apapun yang dilakukan calon legislatif merupakan sebuah bentuk perjuangan. Mereka bisa saja, teman, sahabat, kawan, saudara, bapak dan ibu kita.

Mereka juga harus berusaha. Yang namanya usaha tentu bisa berhasil dan tentu bisa saja gagal. Mereka yang gagal tentu saja, harus merasakan sakit. Ini juga harus berpulang kepada imun tubuh dan psikologis masing-masingnya.

Yang berhasil tentu saja, tertawa gembira. Menikmati hasil perjuangan tidaklah salah. Biaya perjuangan besar, tentu saja harus sesuai dengan hasil yang didapatkan.
Kembali pada niat, apakah semuanya berniat untuk berjuang. Walaupun hampir seluruhnya berjanji akan memperjuangkan konstituen pemilih, tentu saja tidak semuanya akan terpenuhi. Kadang lidah terseleo berjanji walau kayak burung Beo.

Politik, bagi sebagian besar masih hal yang aneh, geli, menjengkelkan, asing. Tentu saja, demokrasi yang tercetus dari maklumat X tersebut, hanya akbrab ketika pemilihan umum atapun pemilihan kepala daerah. Sesudah itu hilang bagaikan gaung gua tak berujung.

Caleg juga penjahat?. Bisa saja, jika niat dan prilakunya Jahat. Namun Jahat bagi siapa, masyarakat, partai, konstituen, atau diri sendiri. Caleg juga bisa disebut penghianat, jika mengingkari apa yang dijanjikannya. Jahatkah mereka, jika itu dilakukan?

Caleg dikelilingi penjahat? bisa saja terjadi. Jika orang-orang disekelilinginya memanfaatkan situasi ini, untuk kepentingan pribadi. Berjanji akan berbakti, mendapatkan sedikit upeti, demi persahabatan abadi. Jika dimungkiri, mungkin juga orang yang mengelilingi caleg itu bisa disebut penjahat?. Mana yang jahat, Caleg jadi penjahat, orang keliling Caleg yang jadi penjahat.

Caleg pejuang?Bisa jadi berjuang untuk diri sendiri, untuk partai, untuk kelompok, untuk masyarakat, ataupun untuk siapa saja. Nah anda sendiri siapa?.

Pelestari Budaya Minang dari Nagari Andaleh

Tidak banyak yang resah ketika generasi muda ranah minang lebih hobi menggunakan alat musik modern,seperti gitar, piano dan drum.
Umumnya kita tidak ambil pusing, namun beda dengan nazirwan. Pemuda, yang pulang dari perantauan tahun 2000 lalu. keresahan itu, sedikit demi sedikit ia kikis. satu demi satu generasi muda di kampungnya di ajak mencintai musik dan budaya lokal.

Tidak mudah bagi nazirwan untuk membujuk mereka.bagaikan mengikis batu karang,sambil bermain domino,duduk-duduk di kedai nazirwan mulai merayu pemuda pengangguran.

Tidak cepat memang,namun kebiasaan mencintai produk dan budaya lokal berbuah manis.anggota grup kesenian yang dipimpinnya semakin meningkat hari demi hari.tidak hanya pemuda saja yang disentuhnya,siswa sekolah mulai diajari gratis,mereka dirangsang kembali mencintai khasanah kebudayaan negeri ibu.

Berbagai prestasi juga mulai diraihnya.nazirwan mencatatkan diri sebagai pemuda pelopor.undangan-undangan memainkan atraksi semakin mengokohkan kepercayaan anggota grup kebudayaan.bahkan dari dunia internasional juga menolehkan wajahnya.nazirwan tetap sederhana,tujuannya satu budaya ranah minang kembali menjadi raja di negeri sendiri.

Peduli terhadap budaya lokal,pada kondisi sekarang bukanlah langkah yang mudah.peralatan yang biasa dipakai,tidak lagi mudah didapatkan.

Bagi nazirwan penghalang itu menjadi tantangan baru.sedikit-demi sedikit walaupun awalnya berdasarkan kebutuhan,tambur,saluang,pupuik dan alat lainnya mulai diciptakan.anggota kelompok semakin dikaryakan,produk mereka laku terjual,pendapatan bertambah,pilihan menganggur mulai ditinggalkan.

Contoh saja peralatan tambur ini.dari bahan yang ada di sekeliling daerahnya,alat musik berbunyi gemuruh itu,mulai dipermak.

Berbekal peralatan seadanya,pahat,palu,kayu banio dilubangi.tidak semuanya sederhana,untuk penghalusan juga digunakan alat katam listrik.

Setelah halus,body tambur lalu dipasang kulit kambing yang sebelumnya telah dikeringkan terlebih dulu.dengan perekat rotan,alat ini siap dipakai.tentu saja perlu pembenahan,biar bentuknya indah,warna-warni pun diberi.

Peralatan itulah yang kini menghidupi nazirwan dan kelompoknya.tambur juga berdentang keras di hatinya,menguatkan pikirannya.siapapun harus mencintai negeri ini.

Orang suka saya senang..kalau orang tidak suka saya akan buat mereka suka.