God Father Tuna Rungu

Pengakuan Algojo Tuna Rungu

Mayat Basrizal Ketika Ditemukan Penduduk

Mayat Basrizal Ketika Ditemukan Penduduk

Ketika hendak ditangkap di Pekanbaru petugas, menemukan kembali keunikan untuk dua orang bisu tersebut. Doni dan Fauzi ternyata orang yang cukup disegani bagi kelompok orang bisu di kota Pekanbaru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Limapuluh Kota itu.

“Kalau ada orang bisu yang merasa dianiya orang lain, maka Fauzi dan Doni merupakan tempat mengadu mereka,” tutur Kanit Reskrim, Aiptu Hendrias yang menjemput mereka ke sana.

Tiga puluh orang bisu, melepas kepergian mereka untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. “Saya tebas lehernya satu kali,” ucap Fauzi tidak begitu jelas.

Doni eksekutor dua, gentleman mengaku kepada petugas bacok kepala korban satu kali dan selanjutnya melakukan beberapa tusukan sehingga korban tewas.
“Om mati, Tuti tendang dan saya buang ke sungai,” ungkap Fauzi sambil memperagakan cara membuang mayat Basrizal.

Tidak ada tampang menyesal dari wajah mereka. Dengan cengengesan mereka kembali mengulang cara membunuh korban ketika diminta oleh petugas. “Awalnya pura-pura pipis,” jujur Fauzi bertutur. Tangannya memegang celananya sambil senyum.

Usai memperagakan cara membunuh, Fauzi dan Doni dibawa ke kamarnya yang baru. Dalam sel Polsekta Harau. Sambil lewat sel teman-teman wanitanya Fauzi berjalan seperti orang utan. Tanggannya diletakkan dipinggang, mulutnya berbunyi seperti bunyi orang utan berusaha, membuat teman-temannya tertawa.

Bagi Fauzi berkumpul dengan teman-temannya lebih penting, daripada melarikan diri dari tanggung jawab tersebut. “Kata gurunya dia tidak mau melarikan diri berdua saja. kalau semua temannya ikut dia mau saja pergi kemana saja,” tutur salah seorang petugas. (tandri eka putra)

Berita Terkait ;
– Membunuh Dalam Diam

Advertisements

Auman Cekam Kapur IX

Seekor Harimau Kapur IX Diangkat

Seekor Harimau Kapur IX Diangkat

Tak hanya auman, juga mengerayangi nyawa penduduk. Tercatat….. korban dan kerugian…………?

Laporan : Tandri Eka Putra—Limapuluh Kota

Tak urung, peristiwa ini mengemparkan warga. Warga resah dan takut ke luar rumah. Harimau Sumatera mendatangi perkampungan itu. Sekitar tiga bulan daerah Kapur IX dan Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota akhirnya mencekam. Binatang buas, harimau Sumatera menghantui rasa nyaman penduduk.

Walaupun tidak semua daerah yang didatangi binatang buas sekaligus langka, tapi tingkat kecemasan meningkat daerah paling ujung di Kabupaten yang berbtasan langsung dengan Provinsi Riau tersebut mencekam.

Daerah yang terkenal dengan gambir itu, sejak bulan 20 November 2005 hingga Januari 2006 di datangi Inyiak Balang (panggilan Harimau bahasa Minangkabau-red). Akibat kunjungan yang tak diharapkan itu, beberapa orang terluka dan tiga diantaranya meninggal dunia dengan bagian tubuh tidak utuh lagi. Tidak hanya itu penduduk juga kehilangan binatang ternak lainnya berupa sapi dan kambing.

Suasana mencekam, dihantui bertemunya binatang yang buas itu membuat masyarakat enggan pergi ke ladang. Padahal ladang yang terletak di tengah hutan merupakan sumber penghasilan utama penduduk Kapur IX dan Pangkalan.

Tanggal 20 November 2005. beberapa penduduk jorong Kapuang Ratan Nagari Sialang kecamatan Kapur IX berpapasan dengan binatang buas tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam pertemuan itu, tiga orang penduduk luka-luka, satu ekor sapi dan tiga ekor kambing diterkam sehingga tubuhnya compang-camping dicabik-cabik taring dan cakar binatang liar itu.

Esok harinya tanggal 21 November 2005, tiga ekor kambing penduduk Muaro Peti juga hilang dan ditemukan sudah tidak utuh lagi. Tim dari pemerintahan kecamatan Kapur IX dan Anggota Polres Kabupaten Limapuluh Kota, melalui Polsekta Kapur IX segera mengamankan daerah itu. Masyarakat pun diingatkan untuk tidak pergi sendiri-sendiri ke ladang mereka.

Hari-hari berikutnya, masyarakat semakin sering menemukan jejak hewan tersebut diladangnya. Tidak hanya sekedar jejak, bayangan tubuh berkulit belang menandakan hewan tiu ada semakin nyata dimata penduduk.

Akhir bulan November tersebut seorang penduduk di kecamatan sama berkelahi dengan harimau di ladangnya. Korban selama beberapa bagian tubuhnya terkena cakaran dari binatang yang gesit itu. Penduduk itu bernasib baik, sehingga berhasil melarikan diri. Usai dirawat di puskesmas korban diperbolehkan pulang dengan menyisakan ketakutan yang sama.

Kamis, beberapa orang penduduk di Tanjung Jajaran nagari Galugur menemukan binatang itu. Seorang penduduk malamnya terpaksa harus berkelahi mempertahankan hidupnya. Saat itu korban yang sedang mencangkul diladangnya berhasil membuat hewan buas tersebut cedera pada matanya, dengan pukulan cangkulnya.

Harimau itu melarikan diri, meninggalkan tubuh korban yang sudah luka-luka. Esok harinya penduduk daerah Kapur IX merasa harimau tersebut tidak akan kembali lagi ke kampung mereka. Masyarakat petani gambir kembali beraktifitas seperti biasa. Mereka merasa harimau sudah pergi, karena mendengar binatang buas tersebut menerkam masyarakat Provinsi Riau, Rokan Hulu hingga luka-luka.

Di Provinsi tersebut harimau semakin mengganas dan menewaskan dua orang warga Rao. Dugaan masayrakat Kapur IX akhirnya salah. Hampir satu bulan tidak didatangi harimau, Kamis 19 januari 2006 kembali harimau mengunjungi negeri ini. SAtu orang penduduk luka-luka dan beberapa hewan ternak tewas diterkamnya. Korban diketahui bernama Iswanto (16).

kedatangannya Inyiak balang membuat jajaran Polres Limapuluh Kota kembali waspada, melalui petugas Polsek Pangkalan patroli dan jaga malam ditingkatkan. Selang dua hari, Sabtu 21 Januari 2006 Inyiak balang yang dipercaya jarang turun ke kampung itu berhasil membunuh seorang penduduk. Korban bernama Si Ii ditemukan penduduk pagi harinya dengan tangannya sebelah kiri hilang dan tangan sebelah kanan rusak.

Hari-hari dilalui penduduk dengan kecemasan. Penduduk berani keluar jika berombongan. Senin 23 Januari 2006 rombongan dari Muspika plus Limapuluh Kota, Polres Limapuluh Kota, Kesbanglinmas, dan Sekda, Bactar Kahar mengunjungi lokasi untuk melihat kondisi masyarakat di daerah Luhak nan bungsu itu.

Hari itu juga, rombongan dikejutkan dengan bertemunya rombongan yang mengusung seorang pendduuk di tengah perjalanan. Daerah penemuan tubuh itu di sungai Ringgo Joron Mongan Nagari GAlugur kecamatan Kapur IX.

25 Januari 2006, Pemkab Limapuluh Kota bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar dan Taman SAfari segera membuat antisipasi dengan pemasangan perangkap. Rombongan memasang dua perangkap dari kayu dengan umpang kambing dan anjing. Lokasi pemasangan perangkap ada di dua titik di sekitar daerah Santuang jorong Mongan kecamatan Galugur di daerah perbukitan tempat biasa hewan itu muncul.

Jumat, 27 Januari setelah dua hari pemasangan perangkap akhirnya harimau yang diduga telah meresahkan masyarakat itu ditembak mati petugas. Petualangan harimau itu berakhir, dengan dua tembakan di dada dan kakinya. Petugas terpaksa menembak di tempat karena binantang tersebut berusaha menerkam petugas yang berpatroli di daerah perbukitan. Tepatnya sekitar 200m dari perkampungan penduduk atau jembatan Mongan.

“Ketika itu kami rombongan patroli dan kebetulan kepergok dengan harimau. karena harimau itu berusaha menerkam romongan maka dilakukan penembakan. Tembakan dengan senjata laras panjang mengenai kaki. Tembakan itu tidak melumpuhkannya malah semakin membuatnya marah dan akhirnya dua tembakan di dadanya membuat binatang itu tak berkutik lagi,”ungkap Kapolresta Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widiyanto menceritakan kronologis keberhasilan jajarannya mengamankan warga.

Hal itu juga dibenarkan oleh anggota kepolisian, Aiptu Iswandi yang disebut-sebut penduduk sebagai salah satu dari rombongan yang berhasil menumbangkan bintang yang telah membunuh warga itu. “Kita tetap standby menjaga keamanan,” tuturnya Ka SPK shift C Polresta Limapuluh Kota itu. (abk)

Membunuh Dalam Diam

Tersangka bersama guru mereka di SLB dulu

Tersangka bersama guru mereka di SLB dulu

Tanggal 24 Maret 2006. Malam terakhir bagi, Basrizal (45). Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual pisau keliling itu, dihabisi teman keponakannya sendiri dengan sembilan luka, akibat benda tajam di tubuhnya. Mayat lelaki bertubuh tegap, berkumis tipis dan berambut cepak itu ditemukan seorang tukang galian kabel yang beberapa hari bekerja disana, pukul 10.00 WIB. Saat ditemukan korban memakai baju loreng seperti TNI dan baju kaus biru tua. Baju kaus tersebut bertuliskan Prajabnas Padang Panjang. Tidak ada satupun identitas yang ditemui ditubuh korban. Limapuluh Kota gempar, penemuan mayat keenam dalam satu tahun terakhir itu menambah angkernya daerah dekat kelok sembilan tersebut.

Setelah 21 hari, satu keluarga dari Singkarak mengaku korban adalah kerabatnya. “Korban diketahui pergi terakhir bersama beberapa orang bisu beberapa hari sebelumnya,” tutur Kapolres Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widyanto MM mengulang kata keluarga korban. Penyelidikan dilanjutkan, tiga orang bisu akhir diciduk di tempat kos mereka di daerah Piliang Payakumbuh Utara Kota Payakumbuh.

Tempat kos tersebut, cukup nyaman. Menyewa dua buah kamar, mereka dikira tetangga merupakan sepasang suami istri. Warga sekitar tidak begitu peduli karena sulitnya berkomunikasi dengan orang-orang yang tuna wicara itu. “Kami tidak pandai berbicara dengan mereka, jadi selagi aman-aman saja kami biarkan,” tutur Dewi salah satu tetangga tempat kos Lena yang dipakai untuk ramai-ramai.

Tiga orang tersebut, Lena, Alfi dan Tuti akhirnya bernyanyi. Mereka merencanakan hal itu dengan lima orang temannya yang lain yang juga tuna wicara. “Om sering menyiksa orang tuanya, melarangnya pacaran dan pernah memperkosanya tiga kali,” tutur Kapolsekta Harau, AKP didampingi Kanit Reskrim, Hendrias mengulang kata penterjemah yang diisyaratkan Lena.

Pembunuhan direncanakan pas Hari Valentine, tanggal 14 Februari 2005. Lima orang bisu itu, Marlena, Muslifar, Tuti, Debi, dan Almera merencanakan pembunuhan untuk orang yang sering menyiksa Lena itu. Strategi diatur, rencana dijalankan korban akan dibunuh ditempat kos di daerah Piliang itu.

Untuk matangnya rencana, Lena dan Muslifar berangkat ke Pekanbaru. Menemui dua orang rekan bisu mereka disana, Doni (23) dan Fauzi (25). Dua orang tersebut akan datang pas tanggal 23 Februari, untuk mengakhiri nyawa paman yang tidak disukai Lena itu.

Kesepakatan berubah, ketika dua algojo bisu didatangkan dari Pekanbaru. Tempat pembunuhan ditukar, dengan alasan sulitnya membuang mayat korban. Pisau diminta Lena dari dua orang tersangka. Muslifar dan Almera mengambil kerumahnya. Pisau dimasukan ke balik baju kedua algojo.

“Waktu ngambil pisau, Almera sempat terkejut melihat ada polisi razia dijalan. Pisaunya sempat terjatuh sebelum memasuki tempat razia. Akhirnya mereka bisa lolos dari razia lalu lintas waktu itu,” tutur petugas mengulang kisah Almera

Tanggal 23 Februari korban datang ke tempat kos untuk mencari pacar Lena, Alfi nada. “Korban bermaksud membunuh Alfi,” tutur salah seorang petugas menjelaskan. Tidak menemukan yang diinginkan. Korban dibujuk untuk mencari Alfi ke Pangkalan. Mereka berangkat pukul 02.00 keesokan harinya. Di tengah perjalanan tersangka Fauzi, pura-pura buang air kecil. “Pura……..-pu…ra,” tutur Fauzi cengengesan sambil memegang celananya. Usai Fauzi buang air, korban merasa dipermainkan pertengkaran mulut pun tak terelakan.

Doni dibelakang tersangka, juga ikut masuk dalam cekcok mulut orang bisu itu. Tangan Fauzi menunjukan angka tiga, dan kepalanya berputar-putar tiga kali juga. maksud dari isyarat itu, korban yang cekcok dengan Fauzi melihat kebelang ke arah Doni, kembali melihat Fauzi dan melihat Doni lagi selama tiga kali. “Ketika korban melihat Doni itulah, Fauzi langsung mengeluarkan pisaunya dan menebas tengkuk korban,” ucap Hendrias.

Doni tidak mau ketinggalan, senjata tajam dibalik bajunya pun berbicara. Pisau panjang itu membacok kepala korban dari depan. Korban tersungkur, dan berusaha menendang Doni. Tanpa ba, bi, bu Doni kembali menghujamkan pisaunya hingga beberapa luka tusukan diderita korban. “Salah satunya sampai tembus,” tutur petugas lainnya. Tuti tidak mau hanya berdiam diri, Ia ikut menendang korban.

Sedangkan empat tersangka lain menyaksikan dari jauh. Lena menggeleng-geleng dan berusaha mengucapkan tidak melihat pembunhan tersebut karena gelap.

“Bu…ang….Bu..ang,” ucap Fauzi menjelaskan bahwa dia membuang tubuh korban ke sungai. Dipastikan tugas sudah selesai. Mereka segera berangkat ke Payakumbuh. Motor korban dibawa tersangka Tuti kembali ke tempat kos. Dua harinya, Alfi diminta untuk menjual HP Lena.

“Alfi tidak ingat, kepada siapa menjual HP tersebut. Tetapi ia ingat harganya Rp 500 ribu,” tutur petugas menjelaskan kembali bahasa isyarat Alfi.

Uang tersebut dibagi dua untuk Doni dan Fauzi. Fauzi pergi Padang, untuk menghadiri pesta pernikahan temannya. Sedangkan Doni langsung balik ke Pekanbaru. Ketika petugas menanyakan untuk apa uang itu, Doni menggerakan tangannya, seperti mengendarai mobil dan seperti menghisap rokok. Tangannya menunjukan kelima jarinya. “Duitnya sisa Limapuluh ribu,” tutur Kanit Reskrim kembali. (*)

Awan Mendung Bergelayut Di Akabiluru

Tetangga memandang haru ketika menjenguk Afrizal

Tetangga memandang haru ketika menjenguk Afrizal

Tanah di dekat sebuah rumah kayu, masih teronggok merah. Di dalamnya tertimbun tubuh seorang anak manusia. Itu kubur yang baru saja dibuat. Tertulis di batu nisan nama Afrizal Efendi. Warga jorong Batu Hampa kenagarian Koto Tangah, Batu Hampa Kecamatan Akabiluru Kabupaten Limapuluh Kota. Meninggal akibat penyakit tumor ganas di usus besarnya. Meninggal Jumat (7/7) Tahun 2006.

Laporan Tandri Eka Putra

Dua hari sebelum hari naas itu, ketika dikunjungi Afrizal memang telah cukup menderita. Waktu itu tampak jelas Ujang panggilan kesehariannya kesakitan. Dia meringkuk, merintih matanya terpejam menahan rasa sakit. Mulutnya
bergetar tidak jelas. Sesekali tubuhnya. Ujang (30) tersiksa, menahan sakit tumor yang diderita selama empat bulan.

Memang bukan keinginan dirinya untuk terlahir menderita. Hidup dari keprihatinan terhadap kondisi hidup, Afrizal Efendi dan keluarga terpaksa bertahan terhadap kerasnya tekanan untuk mencari sesuap nasi. Berjuang walau tenaga dan kesempatan terbatas dari kungkungan penjara kemiskinan dan ketidak berdayaan. Nasib batasi keinginan untuk mendapatkan hak seperti sesama mereka.

Setelah dewasa Ujang bekerja serambutan. Terakhir Ujang berprofesi sebagai cingkariak (kondektur) bus Payakumbuh-Bukittinggi. .Orangtuanya telah tiada. Pemuda anak bungsu tersebut hanya tinggal bersama kakaknya, Rosnavila (32). Sayangnya sang kakak tidak mampu membantu banyak. Keterbatasan saudara satu-satunya  tidak mampu memberikannya lebih dari sekedar rasa iba dan perhatian. Rosna bekerja sebagai tukang cuci dengan gaji Rp10.000 perhari. Lima kakak yang lain tinggal di Jakarta tak jelas dimana rimbanya. Afrizal harus bertahan atau terhempas nasib malang.

Empat bulan menderita tumor ganas. Ujang mencoba mengobati ke puskesman. Sekitar bulan Januari 2006 dia mendapatkan rujukan untuk berobat ke RSUD M Adnan Payakumbuh. Di rumah sakit tersebut Ujang mendapatkan perawatan dan pengobatan. Tumor di anusnya diangkat. Usus besarnya terpaksa dipotong.

Untuk pengeluaran Ujang sementara waktu harus dilakukan melalui usus besar yang dikeluarkan dari perutnya. Usai pengobatan kondisi Ujang semakin melemah. Operasi lanjutan harus dilakukan. Pihak rumah sakit menyarankan untuk melakukan operasi di RSUD M. Muktar ke kota Bukittinggi.

Berbekal keinginan keras dan bantuan pemerintah berupa kartu miskin Ujang berangkat ke Bukitinggi. Sendiri!. Sesampai disana dia meminta untuk diperbaiki kondisi kesehatannya. Pihak rumah sakit melakukan prosedur perawatan. Diputuskan operasi menunggu kondisi tubuhnya prima. Ujang harus mendapatkan transfer darah AB sepuluh kantong, untuk mengembalikan alat trasnportasi energi di tubuh lemahnya.

Masyarakat segera bertindak. Bersama-sama mereka usahakan sepuluh kantong darah AB. Sayangnya pencarian yang dipimpin wali nagari Batu Hampa tersebut tidak berhasil mengumpulkan darah sebanyak yang dibutuhkan. Hanya enam orang berhasil didapatkan mempunyai golongan darah AB. Tiga diantaranya tidak bisa donor. Tensi darah mereka rendah setelah bergadang menonton piala dunia. ,”Kami telah berusaha hanya tiga yang layak untuk donor,”ucap Wahyu Santoso, wali nagari Koto Tangah Batu Hampa Kecamatan Akabiluru.

Hal itu juga dibenarkan masyarakat lainnya. Mereka tidak berhasil mendapatkan tambahan darah lagi. Sebagian dari mereka juga menyesalkan tetapi kepada siapa!. Mereka ingin Ujang mendapatkan darah, tapi bagaimana caranya, masyarakat tersebut terus berusaha sesuai kemampuan masing-masing. Bertanya-tanya dan menghubungi siapa saja yang bisa dihubungi. Tetapi usaha meraka tetap tidak membuahkan hasil. Kondisi tubuh Ujang semakin melemah.

Tokoh masyarakat dan anggota DPRD pun diundang mengatasi penyakit Ujang. Mereka mencoba membantu, pengumuman segera dipasang di sebuah radio di Limapuluh Kota. Informasi di sebarkan, berbagai organisasi diminta mendonor jika ada anggotanya yang punya darah AB. Mereka seakan berpacu dengan waktu. Mencoba menyelamatkan jiwa seorang manusia. Berpacu dengan takdir dengan ikhtisar. Berbagai sumbangan terus mengalir, beberapa pendonor telah didapatkan.

Belum sempat bantuan tersebut diselesaikan, dengan sepuluh kantong darah. Tuhan berkehendak lain. Penderitaan Ujang berakhir seiring panggilan pencipta. Ujang menghembuskan nafas terakhir di tengah perjuangannya untuk mengatasi rasa sakit di tubuhnya. Ujang harus pergi dengan duka mereka yang ingin membantu. Lelaki yang kondisi telah lemah tersebut harus meninggalkan kakaknya seorang diri, diiringi tatapan kosong masyarakat.

Kepala dinas kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota, Indra Safitri menyebutkan kematian korban bukan hanya karena kekurangan darah AB. “Penyakitnya telah komplikasi. Sebagai tenaga kesehatan usaha penyembuhan terus dilakukan,”ucapnya di ruangannya. Lebih lanjut Indra Safitri menyatakan penyakit yang dialami Afrizal sudah kronis. Untuk penyembuhan diperlukan rumah sakit yang mampu dengan tenaga dan peralatannya.

Puskemas sebagai ujung tombak dinas kesehatan telah memberikan beberapa rujukan untuk referensi tempat penyembuhan bagi penyakit Ujang. Tidak hanya itu, pihak puskesmas juga telah memberikan perban dan berbagai obat-obatan untuk membuatnya bertahan menjelang mendapatkan sepuluh kantong darah AB. Indra Safitri mengakui darah yang dibutuhkan warganya cukup sulit didapatkan.

Tokoh masyarakat Akabiluru, Adib Mastur menyayangkan kematian Ujang. “Kita terlambat menanganinya. Seandainya saja kita mendapatkan darah tersebut, mungkin nyawa alamarhum masih bisa diselamatkan,”ucap lelaki tersebut sendu. Ferizal Ridwan,¬† anggota DPRD Limapuluh Kota yang ikut mengusahakan bantuan dan darah untuk Ujang, mengucapkan rasa terimakasih kepada seluruh masyarakat dan pendonor yang berusaha untuk menyelamatkan kondisi Afrizal.
,”Keluarga Ujang dan masyarakat mengucapkan terimakasih. Kami mewakili keluarga dan masyarakat mengucapkan banyak terima kasih. Mungkin Tuhan berkehendak lain terhadap umatnya,”ucapnya. (abk)