Kami memberikan Arti Pada Ketakutan ini

Satu tahun telah berlalu. Sisa reruntuhan masih terlihat juga. Daerah ini masih terlihat gamang, begitupun perasaan yang tidak pernah tenang. Goncangan 30 September 2009 silam, masih terbayang. Waktu itu rasa takut begitu menyusut. Beban profesi mendokumentasikan setiap detik peristiwa penting dan jarang terjadi, terlalu melingkupi. “Jangan lupa ambil handycam,” sebut ku kepada seluruh reporter yang sedang berjibaku membuat laporan tugas satu hari. Goyangan gempa makin mengguncang. Mereka masih ada yang bingung, sebagian besar berusaha menjalankan tugas dari suara mencari kamera, senjata kerja, sebagian kecil masih terbingung-bingung. “Gampo…gampo (Gempa..gempa) lari ..lari..”sebut beberapa teman berusaha keluar dari lantai dua menyisiri anak tangga yang tidak lagi rata. Krek…krek…retakan demi retakan terlihat jelas di dinding yang dilewati, bercampur debu dan ketakutan. Berbekal handycam kecil di tangan, mereka harus ditinggalkan. Menyelamatkan diri, dan mengabadikan apa yang terjadi. Sebelah kantor kami, di Jalan Proklamasi No. 52 C Kota Padang berdebu. Lensa kamera tidak mampu menembusnya. “Gama runtuh,” teriak beberapa orang sambil berusaha lari dari menjauh. Mobil- mobil di parkiran pun di kebut, mereka cabut mencari tempat agar tidak semaput. Menghindar dari ancaman ketakutan. “Datangkah Tsunami,”? Apakah harus ku ikuti?. Dua telefon genggam mulai digunakan, hanya satu yang langsung menyambung. “Rumah wak hancua bang..barang-barang pacah sadonyo,” sebut istri di rumah. “Ada yang terluka, ada yang kena runtuhan,”. “Tidak kami semua aman, devi takuik bang,” sahut kekasih hati yang kunikahi dua tahun lalu itu. Kurasa dia mengerti, di tengah kebingungan itu. “Tapi nggak apa-apa, kami sudah kumpul dengan tetangga dan saudara di sini,’ sahutnya memahami dan tidak menuntut harus segera berkumpul. Nomor rumah juga dipencet, sambil mengambil beberapa gambar orang berlarian. ‘Rumah wak ndak baa bang (Rumah kita nggak apa-apa),” sahut si bungsu di rumah ibu. “Ibu dimana,” Tanyaku. “Ibu tadi ke pasar sekarang tidak tahu dimana,” sahutnya bergetar ketakutan. ‘Sudah sekarang berdiri saja di luar rumah, di tanah lapang rumah kita di tempat ketinggian. Dekat dengan tetangga saja dulu, jangan takut ya,” seruku dijawab dengan “Ya bang, tapi cari ibu nanti ya,” sahutnya. Aku beringsut, abadikan gambar beberapa gadis muda terluka. Luka temannya prianya juga mengangga. Mereka hanya mampu menangis sambil terduduk. “Tutup lukanya,”Kuberikan bandana (saputangan lebar) di saku belakang. “Tekan,” kataku mengambil tangan seorang gadis yang terbengong-bengon melihat darah semakin banyak dari luka temannya yang mulai kehilangan keseimbangan. Mereka bukan satu atau dua, puluhan mungkin saja ratusan. Membawa luka dan ketakutan sambil terus berjalan ke daerah yang lebih tinggi. Telefon genggam kembali ku hidupkan, telfon di tangan ibu tidak lagi aktif. “Ibu ada di sana,” telfon ku ke rumah saudara di daerah Andalas. “Ada tapi sudah pulang tadi,” sebut ipar ku. “Rumah kami hancur,” sebutnya sambil menjelaskan tidak bisa mengantarkan ibu pulang, sebab sepeda motornya tertimpa reruntuhan. Antara resah sebagai anak, bakti sebagai saudara, tanggung jawab sebagai suami, dan pelindung sebagai kakak dan profesi yang harus dijalankan. “Hilang,” gumam ku sambil merogoh saku celana, kunci motor tidak ada. Aku melihat ke jalanan, “Jalan kaki, tidak mungkin terlalu jauh,” lanjut gumam. Kuputuska untuk terus melihat apa yang telah terjadi di balik debu. Astafirullah! Teriakku seorang anak kecil berlari dari balik reruntuhan. Tubuhnya tidak lagi jelas, dipenuhi debu dan darah. Makin parah jika dia tersandung, tiang-tiang bekas reruntuhan telah menunggu tubuh mungilnya. “Tahan jangan lari, lambat-lambat saja,’ teriakku sambil terus menodongkan kamera. Tangan satu lagi meraih tubuh munggilnya membantu turun dari lantai dua yang telah berkumpul dengan lantai satu di tanah. Kamera kumatikan, nyawa mereka lebih berharga. Satu persatu mereka diturunkan. “Tolong da, kawan kami tertimpa bangunan,” katanya tidak sabaran ingin kembali. “Jangan tetap di sini kumpul sama kawan-kawan lain. Tunggu orang tua menjemput, nanti mereka payah mencari,’ kataku membujuk. Aku mulai kalap, seorang pemuda sibuk mengeluarkan sepeda motornya dari runtuhan gedung. Seorang ibu menangis meraung-raung. Beberapa pemuda berlarian ke sana kemari, tidak tahu apa yang dilakukan. “Tolong adiak wak da,” katanya meminta tolong. Satu persatu terpaksa harus ku ajak. “Ndak ka takawo surang. Awak tolong yang bisa sajo dulu, sambil mencari ke dalam,,” kataku kepada mereka yang minta tolong. Seorang pemuda, berteriak. “tolong anak ko da,” katanya menurunkan dari sisa reruntuhan,”. Anak itu hanya menggunakan baju dalam. Kepalanya ditutupi baju seragam kotor berlumuran darah. Ku buka baju, dan buka lagi baju dalam. Aku tutupi kepalanya, dan ikat lebih erat. “Kumpul di sana sama teman-teman lain,” sebut ku kembali memakai baju. Kamera kembal ku hidupkan, ku ambil wajah-wajah ketakutan dan kekalutan. Pikiran dan hati ku berontak, ini bukan saatnya kata hati. Inilah saatnya kata pikiran, kapan lagi mendapatkan gambar ketakutan yang nyata ini. Aku tak peduli, kamera ku arah kan ke arah anak-anak yang mulai banyak turun di Bantu beberapa orang pemuda. Aku kembali, mereka telah banyak yang membantu. Teringat, bagaimana kondisi kantor kami yang satu lagi, sayup terdengar tadi ada yang bilang nyaris rubuh. Kubalikan badan. Melihat kantor Padang Ekspres telah miring. Kutanya beberapa orang, tidak ada korban jawab mereka. Aku kembali mencari, melihat bos yang sudah kuanggap orangtua sendiri. “Alhamdulilah semua sudah selamat,” kataku dalam hati melihat Pak Zaili Asril berdiri di dekat pagar. Beliau sempat disebutkan terkurung di dalam ruangannya yang langsung rusak ketika terkena gempa. Di balik gedung terlihat asap tebal. Sesekali api membumbung ke langit. Dari kejauhan terlihat kesibukan luar biasa. Seorang polantas bertanya, “ Ndak ada yang Bantu mereka,’. Memang benar yang dikatakannya, mereka berkumpul termangu. sedangkan beberapa orang lari serabutan bolak balik menyelamatkan barang-barang. Aku harus mendekat. Berbaur kerja serabutan angkat barang-barang dan menumpuk di pinggir jalan, tentu saja setelah mengabadikan beberapa momen. Sebagian yang tercenung mulai tersadar, dan membantu. Ada juga yang nekat, meberobos api demi lembaran ijazah. Polantas itu kembali sibuk, mengatur lalu lintas. Sesekali membantu menyiramkan air. Entah bagaimna keluarganya, entah apa yang dipikirkannya. Mungkin itu beban baju dan janji yang melekat di seragamnya. Kembali ke kantor, sebagai seorang coordinator liputan aku harus tetap mengkoordinir seluruh reporter. Membagi tugas, dan mengatur agar mereka tetap nyaman. “Kalian pulang dulu ke rumah, lihat rumah. Jika ada keluarganya jadi korban, selamatkan dulu. Sambil jalan ambil juga liputan, kalau bisa di dekat rumah tetap ambil gambar,’ jelasku dan mengatakan seluruh kaset segera di kumpulkan dan kantor dipindahkan ke arah gaduik, tempat tower. “Kalau apa-apa telfon ke nomor ini, atau langsng ke atas,” tambahku sambil mengusap punggung beberap aorang reporter. Tamu yang kuterima tadi sore, mendekat. “Keliling kita,’ katanya. Aku heran, bagaimana keluarganya?. Sudah aman tadi sempat telfon tetangga, rumah aman keluarga aman ngungsi ke tempat orang tua,’ katanya. Kami tidak jelas mau kemana, aku putuskan melihat kondisi kantor Poltabes padang. Ramai sepertinya tahanan dikumpulkan di lapagan. Aku pindah ke kantor walikota, hancur. Wakil walikota sibuk mengatur kinerja anggotanya. Beberapa gambar kembali kuambil. Sebentar saja, aku lanjut naik sepeda motor berboncengan. Duduk di belakang, menyisiri daerah Pondok. Mayat-mayat bergelimpangan. Tuhan, menunjukan kuasanya. Seorang gadis masih hidup, tangannya menggapai hendak keluar, apa daya sebagian tubuhnya ditahan balok bangunan. Suaranya nyaris tidak terdengar lagi. “Berdoa saja,” sambil menyelemuti wajahnya agar tidak terus ketakutan. Beberapa orang masih sibuk menguit, mengurangi beban tubuhnya yang jelas sudah hancur. Tidak jauh dari sana, kepanikan luar biasa terlihat di antara kebakaran sebuah took. Lantai satunya masih terlihat api, tapi bangunan bertingkat tiga tersebut terkunci. Dua orang tua, satu wanita muda menggendong anak berteriak dari atap ingin turun. Orang lewat hanya mampu menatap, ada juga yang mencoba mendobrak tapi tidak akan bisa menghantam pintu besi tebal tersebut. “Bertahanlah,” bisikku dalam hati, mengingat kebakaran akan lama menjalar hingga ke lantai atas. Kalaupun terpaksa melompat, mereka harus menempuh resiko patah tulang daripada mati terbakar. Heran juga, dalam kondisi tersebut tampaknya luka ataupun patah tulang ku anggap hal yang terbaik. Hari sudah mulai gelap, terasa cepat sebab seluruh listrik di padam. Aku harus kembali ke kantor, mengumpulkan seluruh informasi hari ini utntuk ditayangkan. Walaupun ku tahu, sangat minim sekali orang bisa ataupun berminat untuk menonton televise kebanggaan kami saat itu . Hampir bersamaan, seorang senior yang sekarang sudah berlabuh menjadi pegawai negeri sipil dating ke kantor. Maryulis Max bertanya bagaimana cara mengirim berita dan foto, padahal ia telah memiliki hamper seluruh peralatan itu semua, kamera, laptop, dan modem. Hanya saja sinyal tidak ada. “Disini tidak bisa, kalau mau ke daerah Gaduik di sana Gensetnya masih aman, kalau sinyal itu susahnya jaringan selular terbatas. Atau coba keliling Kota Padang, kantor pusat jaringan mungkin punya solusi,’ sebutku menyarankan. Entah didengar atau tidak Marlyulis Max pergi mengumpat keadaan. “Alat ada, semua lengkap tapi tidak bisa juga kerja,” katanya pergi. Sebagian kawan sudah berkumpul, ada yang ingin pulang bersama keluarga tapi tetap memberikan hasil liputannya. Ada yang ingin tetap bekerja, sebab keluarga mereka dipastikan aman. Luar biasa, di saat seperti itu mereka menunjukan profesionalitas yang tinggi. Secara berangsur-angsur kami pergi ke daerah Gaduik, tempat tower Padang TV. Aku masih stand by beberapa jam lagi, untuk menunggu yang lain. Aku juga harus melihat kondisi rumah dan orang tua sebelum siaran. Beratapkan langit Bersama kakak, dan tetangga lainnya istri ku heran ketika ku datang mencarinya. Ia bilang kehausan tapi takut masuk rumah. Setelah memaksa masuk, karena pintu yang tidka lagi rapi aku membereskan barang-barang sekedarnya saja. Di dalam rumah ada beberapa gallon air , yang harus dikeluarkan. Aku pun mengantarkan ke tengah tengah pengungsi yang ada di lapangan. Tikar pun dibentangkan, ku selimuti tubuh istri ku. “Bertahan saja lah dulu,. Nanti kita telfon-telfon saja ya,” kattaku berpamitan. Pergi ke daerah Gaduik tempat tower Padang TV, aku singgah di rumah orang tua yang jaraknya hanya ratusan merterse sebelumnya. Rumah kami yang masih belum selesai semakin tidak jelas bentuknya. Orang – orang tidur di teras rumah sedangkan di luar hujan masih terus mengguyur. Wanita paruh baya, ibu ku tersenyum ketika bertemu. “Sabar ya bu.,” kataku memegang tangannya setelah menanyakan kabar dan kondisi rumah. Kepada si bungsu ku berpesan untuk menjaga orang tua kami. “Jangan takut, jaga ibu ya,” sebut ku tidak bisa berlama-lama. Siaran Terbatas Mungkin hanya kami yang menonton siaran saat itu, tapi semuanya tidak peduli. Semuanya mengambil peran, menampilkan kondisi seadanya. Kaset-kaset hasil liputan diputar ulang, narasi demi narasi disampaikan hingga jam siaran berakhir. “Kita harus memang tetap siaran,” sebut Imung teman satu angkatan. Tidak puas dengan siaran hingga tengah malam, untuk liputan besok kami tetap rencanakan. Di sela rintik rintik hujan dan bangunan bekas gudang tempat tower yang sempit, kami rapat. “Kita ke Pariaman besok benk,” kata Imung setelah membagi jatah liputan reporter. Subuh menjelang, setelah sholat kami berangsur menuruni daerah Gaduik dengan mobil operasional kantor. Sebagian kawan-kawan masih terlelap. Tidur mereka terasa nyenyak dalam kelelahan. Mungkin juga mereka puas bisa ikut berperan hadir memberikan informasi kepada seluruh masyarakat, walau kami semua juga korban. Inilah tempat kami mengabdi, walau kami kadang dianggap tidak berarti.

(tulisan ini dan bersama tulisan jurnalis lainnya dimuat dalam buku. Jurnalis di titik nol)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s