Tak Ingin Direndahkan, Walau Kekurangan

Dibalik Pengakuan Tersangka Pembantaian si Bisu

Keponakan Korban (Tersangka) Di Balik Tahanan

Keponakan Korban (Tersangka) Di Balik Tahanan

Dibalik kekurangan mereka dari orang normal, karena tidak bisa berbicara dengan benar. Ada kekompakan terpatri dihati mereka. Rasa sakit yang dirasakan satu orang, dirasakan orang lain. Rasa sakit Lena sering dianiaya, dan diperkosa, serta dilarang pacaran, membuat mereka sepakat untuk membunuh paman Lena tersebut.

“Orang-orang bisu itu merasakan mereka senasib sepenanggungan,”tutur Kapolsekta Harau, AKP Pariadi didampingi Kanit Reskrimnya, Aiptu Hendrias. Beberapa guru SLB juga mengungkapkan mantan anak muridnya itu tidak mau melarikan diri sendiri-sendiri. Bagi mereka berkumpul dalam penjara lebih baik. Terlihat tawa dan canda mereka, menghibur Lena yang tampak kurang enak badan disel sebelah mereka.

Kehadiran keluarga mereka yang kebanyakan juga bisu, menambah semangat mereka untuk terus kompak menjalani hukuman. Ditambah kehadiran mantan guru SLB di Polsekta Harau untuk menjelaskan arti isyarat yang mereka berikan.

Wajahnya Lugu

Wajah Marlena (21) masih pucat. Tampaknya wanita muda berparas cantik itu pucat ketika berada dalam tahanan Mapolsekta Harau. Petugas memenuhi permintaan korban, yang sering meminta minum kepada petugas. Petugas juga membelikan obat demam permintaannya.
“Om telah tiga kali memperkosa. Sering menampar dan menampar ibu,” tuturnya dengan bahasa isyarat dan menuliskan hal itu. Terkesan padanya, ada kepuasan tersendiri, berhasil membalaskan dendam walaupun harus tertangkap ditangan petugas Polres Limapuluh Kota.

“Kalau tidak membunuh pamannya, pacarnya akan dibunuh oleh korban,” ungkap Petugas yang menginterograsi Lena.

Sepintas lalu, tidak terlihat Lena mempunya cacat tidak bisa bicara. Wajahnya tergolong manis, dengan beberapa luka di mukannya bekas terjatuh dari motor. “J…a….tuh,” ucapnya walau sulit, sambil tangannya seperti mengendarai motor.
Ketika ditanyakan alasan membunuh pamannya, dengan emosional Lena mempertunjukan bagaimana pamannya itu menampar dan memperkosanya. “Aaaaa….A……Aaaa….Ugh……,” suara itu keluar dari mulutnya, tanggannya memegang pipi, dada dan menunjuk ke pangkal pahanya.
Tampaknya Lena sangat membenci korban yang tak lain pamannya. Ketika petugas memperlihatkan wajah korban, Lena langsung menutup muka. Wajahnya mengkerut, disela-sela baju yang ditutupinya ke wajah lugu gadis remaja itu.

Tak Banyak Bicara

Walaupun mengetahui Lena, merencanakan pembunuhan itu, Alfi-pacar Lena-mengaku tidak bisa melarang rencana itu. Dirinya mengaku tidak ikut ketika pergi ke lokasi pembunuhan itu. “Saya tidak bisa melarangnya,” tutur juru bahasa menjelaskan bahasa isyarat Alfi.
Ketika disuruh foto bersama, Alfi dan Lena tidak mau. “Malu….Ma…..lu………,” katanya Lena berulang-ulang tidak mau. Alfi tampak tenang. Pria berwajah lumayan itu, tidak mau melihat kesana kemari ketika ditanya petugas, berbeda dengan tersangka lainnya. Alfi berdasarkan keterangan yang didapat petugas, mengetahui dan membantu pembunuhan dengan menjual HP Lena. “Dia tidak ingat,” kata juru Bahasa mengartikan gerak tangannya, ketika ditanyakan kepada siapa menjual HP Lena. Uang penjualan HP Rp 500 ribu itulah dibagikan kepada eksekutor. Alfi merupakan target utama dari Basrizal, sebelumnya untuk dibunuh. Korban yang sehari-hari penjual pisau keliling itu telah menyiapkan tiga pisau untuk memburu Alfi. Dalam pencarian Alfi itulah korban bertengkar dengan eksekutor, hingga akhirnya terbunuh di kelok sembilan.

Ketua Puluhan Orang Bisu Pekanbaru

Ketika hendak ditangkap di Pekanbaru petugas, menemukan kembali keunikan untuk dua orang bisu tersebut. Doni dan Fauzi ternyata orang yang cukup disegani bagi kelompok orang bisu di kota Pekanbaru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Limapuluh Kota itu.
“Kalau ada orang bisu yang merasa dianiya orang lain, maka Fauzi dan Doni merupakan tempat mengadu mereka,” tutur Kanit Reskrim, Aiptu Hendrias yang menjemput mereka ke sana. Tiga puluh orang bisu, melepas kepergian mereka untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. “Saya tebas lehernya satu kali,” ucap Fauzi tidak begitu jelas.
Doni eksekutor dua, gentleman mengaku kepada petugas bacok kepala korban satu kali dan selanjutnya melakukan beberapa tusukan sehingga korban tewas. “Om mati, Tuti tendang dan saya buang ke sungai,” ungkap Fauzi sambil memperagakan cara membuang mayat Basrizal.
Tidak ada tampang menyesal dari wajah mereka. Dengan cengengesan mereka kembali mengulang cara membunuh korban ketika diminta oleh petugas. “Awalnya pura-pura pipis,” jujur Fauzi bertutur. Tangannya memegang celananya sambil senyum.
Usai memperagakan cara membunuh, Fauzi dan Doni dibawa ke kamarnya yang baru. Dalam sel Polsekta Harau. Sambil lewat sel teman-teman wanitanya Fauzi berjalan seperti orang utan. Tanggannya diletakkan dipinggang, mulutnya berbunyi seperti bunyi orang utan berusaha, membuat teman-temannya tertawa.
Bagi Fauzi berkumpul dengan teman-temannya lebih penting, daripada melarikan diri dari tanggung jawab tersebut. “Kata gurunya dia tidak mau melarikan diri berdua saja. kalau semua temannya ikut dia mau saja pergi kemana saja,” tutur salah seorang petugas. (abk)

– Kejadian Unik Perdana
– Membunuh Dalam Diam
– God Father Tuna Rungu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s