Membunuh Dalam Diam

Tersangka bersama guru mereka di SLB dulu

Tersangka bersama guru mereka di SLB dulu

Tanggal 24 Maret 2006. Malam terakhir bagi, Basrizal (45). Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual pisau keliling itu, dihabisi teman keponakannya sendiri dengan sembilan luka, akibat benda tajam di tubuhnya. Mayat lelaki bertubuh tegap, berkumis tipis dan berambut cepak itu ditemukan seorang tukang galian kabel yang beberapa hari bekerja disana, pukul 10.00 WIB. Saat ditemukan korban memakai baju loreng seperti TNI dan baju kaus biru tua. Baju kaus tersebut bertuliskan Prajabnas Padang Panjang. Tidak ada satupun identitas yang ditemui ditubuh korban. Limapuluh Kota gempar, penemuan mayat keenam dalam satu tahun terakhir itu menambah angkernya daerah dekat kelok sembilan tersebut.

Setelah 21 hari, satu keluarga dari Singkarak mengaku korban adalah kerabatnya. “Korban diketahui pergi terakhir bersama beberapa orang bisu beberapa hari sebelumnya,” tutur Kapolres Limapuluh Kota, AKBP Priyo Widyanto MM mengulang kata keluarga korban. Penyelidikan dilanjutkan, tiga orang bisu akhir diciduk di tempat kos mereka di daerah Piliang Payakumbuh Utara Kota Payakumbuh.

Tempat kos tersebut, cukup nyaman. Menyewa dua buah kamar, mereka dikira tetangga merupakan sepasang suami istri. Warga sekitar tidak begitu peduli karena sulitnya berkomunikasi dengan orang-orang yang tuna wicara itu. “Kami tidak pandai berbicara dengan mereka, jadi selagi aman-aman saja kami biarkan,” tutur Dewi salah satu tetangga tempat kos Lena yang dipakai untuk ramai-ramai.

Tiga orang tersebut, Lena, Alfi dan Tuti akhirnya bernyanyi. Mereka merencanakan hal itu dengan lima orang temannya yang lain yang juga tuna wicara. “Om sering menyiksa orang tuanya, melarangnya pacaran dan pernah memperkosanya tiga kali,” tutur Kapolsekta Harau, AKP didampingi Kanit Reskrim, Hendrias mengulang kata penterjemah yang diisyaratkan Lena.

Pembunuhan direncanakan pas Hari Valentine, tanggal 14 Februari 2005. Lima orang bisu itu, Marlena, Muslifar, Tuti, Debi, dan Almera merencanakan pembunuhan untuk orang yang sering menyiksa Lena itu. Strategi diatur, rencana dijalankan korban akan dibunuh ditempat kos di daerah Piliang itu.

Untuk matangnya rencana, Lena dan Muslifar berangkat ke Pekanbaru. Menemui dua orang rekan bisu mereka disana, Doni (23) dan Fauzi (25). Dua orang tersebut akan datang pas tanggal 23 Februari, untuk mengakhiri nyawa paman yang tidak disukai Lena itu.

Kesepakatan berubah, ketika dua algojo bisu didatangkan dari Pekanbaru. Tempat pembunuhan ditukar, dengan alasan sulitnya membuang mayat korban. Pisau diminta Lena dari dua orang tersangka. Muslifar dan Almera mengambil kerumahnya. Pisau dimasukan ke balik baju kedua algojo.

“Waktu ngambil pisau, Almera sempat terkejut melihat ada polisi razia dijalan. Pisaunya sempat terjatuh sebelum memasuki tempat razia. Akhirnya mereka bisa lolos dari razia lalu lintas waktu itu,” tutur petugas mengulang kisah Almera

Tanggal 23 Februari korban datang ke tempat kos untuk mencari pacar Lena, Alfi nada. “Korban bermaksud membunuh Alfi,” tutur salah seorang petugas menjelaskan. Tidak menemukan yang diinginkan. Korban dibujuk untuk mencari Alfi ke Pangkalan. Mereka berangkat pukul 02.00 keesokan harinya. Di tengah perjalanan tersangka Fauzi, pura-pura buang air kecil. “Pura……..-pu…ra,” tutur Fauzi cengengesan sambil memegang celananya. Usai Fauzi buang air, korban merasa dipermainkan pertengkaran mulut pun tak terelakan.

Doni dibelakang tersangka, juga ikut masuk dalam cekcok mulut orang bisu itu. Tangan Fauzi menunjukan angka tiga, dan kepalanya berputar-putar tiga kali juga. maksud dari isyarat itu, korban yang cekcok dengan Fauzi melihat kebelang ke arah Doni, kembali melihat Fauzi dan melihat Doni lagi selama tiga kali. “Ketika korban melihat Doni itulah, Fauzi langsung mengeluarkan pisaunya dan menebas tengkuk korban,” ucap Hendrias.

Doni tidak mau ketinggalan, senjata tajam dibalik bajunya pun berbicara. Pisau panjang itu membacok kepala korban dari depan. Korban tersungkur, dan berusaha menendang Doni. Tanpa ba, bi, bu Doni kembali menghujamkan pisaunya hingga beberapa luka tusukan diderita korban. “Salah satunya sampai tembus,” tutur petugas lainnya. Tuti tidak mau hanya berdiam diri, Ia ikut menendang korban.

Sedangkan empat tersangka lain menyaksikan dari jauh. Lena menggeleng-geleng dan berusaha mengucapkan tidak melihat pembunhan tersebut karena gelap.

“Bu…ang….Bu..ang,” ucap Fauzi menjelaskan bahwa dia membuang tubuh korban ke sungai. Dipastikan tugas sudah selesai. Mereka segera berangkat ke Payakumbuh. Motor korban dibawa tersangka Tuti kembali ke tempat kos. Dua harinya, Alfi diminta untuk menjual HP Lena.

“Alfi tidak ingat, kepada siapa menjual HP tersebut. Tetapi ia ingat harganya Rp 500 ribu,” tutur petugas menjelaskan kembali bahasa isyarat Alfi.

Uang tersebut dibagi dua untuk Doni dan Fauzi. Fauzi pergi Padang, untuk menghadiri pesta pernikahan temannya. Sedangkan Doni langsung balik ke Pekanbaru. Ketika petugas menanyakan untuk apa uang itu, Doni menggerakan tangannya, seperti mengendarai mobil dan seperti menghisap rokok. Tangannya menunjukan kelima jarinya. “Duitnya sisa Limapuluh ribu,” tutur Kanit Reskrim kembali. (*)

Advertisements

4 thoughts on “Membunuh Dalam Diam

  1. Pingback: God Father Tuna Rungu « Cerita Sisa Kopi Semalam

  2. Pingback: Kejadian Unik Perdana « Cerita Sisa Kopi Semalam

  3. Pingback: Tidak Terperhatikan « Cerita Sisa Kopi Semalam

  4. Pingback: Tak Ingin Direndahkan, Walau Kekurangan « Cerita Sisa Kopi Semalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s